Throw a pineapple
Tsu's Rants
Blah blah blah...
27 November 2009 @ 12:52 am
17 September 2009 @ 08:56 am
Love isn't just about the sad tears that go along with it
They only leave and hurt my eyes
I love all these ups and downs we go through
It's only you, it's only me
I want to accept your hot feelings
And be taken by you forever
Despite my uncute, tearful face, please love me
They only leave and hurt my eyes
I love all these ups and downs we go through
It's only you, it's only me
I want to accept your hot feelings
And be taken by you forever
Despite my uncute, tearful face, please love me
"Dan, tendangan ke arah de--"
RIIIING!
Terdengar bunyi bel bergema di seluruh penjuru sekolah, dan sang guru Combat pun menghela nafas. Huh. Kenapa bel harus berbunyi tepat di tengah dia menjelaskan? Well, mungkin dia terlalu asyik mengajar hingga lupa waktu. Yeah, terlepas dari repotnya menjadi seorang pendidik, kegiatan ini cukup dia minati. Maka, sambil menurunkan dan melepas kacamatanya, Adriano Constanza, sang guru Combat, pun mengambil buku catatannya dan menatap seluruh kelas.
"Tugas untuk kalian...esai 3400 kata mengenai melawan ilusi dengan tangan kosong, tanpa senjata, baik sebagai ilusionis dan juga bukan ilusionis," ujarnya tenang tanpa mempedulikan protes yang dia terima dari anak didiknya. "Eh, tidak ada protes. Kuberi waktu satu minggu. Tidak selesai, akan kuberi detensi. Bubar."
Dia pun berbalik, menguap lebar sambil menghapus whiteboard di hadapannya. Hah. Sekarang anak-anak yang ribut itu sudah mulai keluar ruangan. Meh. Biar saja. Toh sudah waktunya bubar.
Tapi...
"Ada masalah?" tanyanya tenang, tanpa perlu menatap sudah mengetahui siapa yang tetap diam di tempat duduknya saat itu.
---
Serius, belajar ketika sedang luka seperti ini menyiksa sekali.
Yeah, apalagi kau tidak sempat menempati bangku paling belakang. Salahkan obat penahan rasa sakit yang diminumnya semalam. Rupanya bekerja terlalu baik, sampai ia nyaris kesiangan karena tidur terlalu nyenyak. Erh, tidak nyenyak juga sih. Dia bermimpi buruk. Tentang kejadian yang sama, ketika Tsuzu datang. Namun bukan lagi sebagai sahabatnya. Mimpi buruk itu terasa begitu panjang. Tch, mulai sekarang jangan pernah minum obat semacam itu.
Sekarang efeknya, ia jadi tidak fokus pada penjelasan yang didengarnya. Matanya menatap ke arah sang guru. Tapi yang dipikirkannya bukan tentang pelajaran. Ah, sudahlah. Cukup bermelankolisnya. Rasa sakit yang masih menyengat di lehernya itu membuatnya tersadar dari lamunan, alih-alih bel yang berdering itu. Bagus, luka ini setidaknya punya sedikit kegunaan. Sekarang ia bisa mendengar jelas ada tugas yang harus dikerjakan. Oke, tugas yang diberikan saat ia sibuk menahan rasa sakit ini pasti akan sedikit aneh hasilnya.
"Well, tugas..." Hyo mencatat di agendanya. Tugas esai, 3400 kata tentang melawan ilusi tanpa senjata. Heck, tugas ini jadi terasa tiga kali lebih berat.
Ia mulai membereskan barang-barangnya. Merapikan buku catatan (kosong) di atas meja. Sedikit merapikan kerah kemejanya yang sekarang terkancing rapi. Ché, mau bagaimana lagi? Ia tidak mau kalau sampai luka di lehernya ketahuan. Di balik kemeja, ia juga memakai kaos yang memiliki leher tinggi. Berjaga-jaga, menutupi lukanya. Sayangnya ketika akan berdiri untuk buru-buru keluar, rasa sakit terlebih dahulu menyengatnya. Well, jadilah ia tetap diam di tempat dan--
Crap. Adriano bertanya padanya. Mengetahui Hyo tetap diam di tempat.
"Ti--tidak," ia berusaha menyembunyikan suara tercekat kesakitannya. "Tidak ada apa-apa... Hanya ingin menyelesaikan catatan."
Bodoh. Mau bersandiwara, tapi aktingmu payah. Mana buku dan penamu? Sudah kau bereskan. Konyol. Tapi tubuhnya masih ditahan rasa sakit. Bagus, kenapa harus di saat ada Adriano begini?
Yeah, apalagi kau tidak sempat menempati bangku paling belakang. Salahkan obat penahan rasa sakit yang diminumnya semalam. Rupanya bekerja terlalu baik, sampai ia nyaris kesiangan karena tidur terlalu nyenyak. Erh, tidak nyenyak juga sih. Dia bermimpi buruk. Tentang kejadian yang sama, ketika Tsuzu datang. Namun bukan lagi sebagai sahabatnya. Mimpi buruk itu terasa begitu panjang. Tch, mulai sekarang jangan pernah minum obat semacam itu.
Sekarang efeknya, ia jadi tidak fokus pada penjelasan yang didengarnya. Matanya menatap ke arah sang guru. Tapi yang dipikirkannya bukan tentang pelajaran. Ah, sudahlah. Cukup bermelankolisnya. Rasa sakit yang masih menyengat di lehernya itu membuatnya tersadar dari lamunan, alih-alih bel yang berdering itu. Bagus, luka ini setidaknya punya sedikit kegunaan. Sekarang ia bisa mendengar jelas ada tugas yang harus dikerjakan. Oke, tugas yang diberikan saat ia sibuk menahan rasa sakit ini pasti akan sedikit aneh hasilnya.
"Well, tugas..." Hyo mencatat di agendanya. Tugas esai, 3400 kata tentang melawan ilusi tanpa senjata. Heck, tugas ini jadi terasa tiga kali lebih berat.
Ia mulai membereskan barang-barangnya. Merapikan buku catatan (kosong) di atas meja. Sedikit merapikan kerah kemejanya yang sekarang terkancing rapi. Ché, mau bagaimana lagi? Ia tidak mau kalau sampai luka di lehernya ketahuan. Di balik kemeja, ia juga memakai kaos yang memiliki leher tinggi. Berjaga-jaga, menutupi lukanya. Sayangnya ketika akan berdiri untuk buru-buru keluar, rasa sakit terlebih dahulu menyengatnya. Well, jadilah ia tetap diam di tempat dan--
Crap. Adriano bertanya padanya. Mengetahui Hyo tetap diam di tempat.
"Ti--tidak," ia berusaha menyembunyikan suara tercekat kesakitannya. "Tidak ada apa-apa... Hanya ingin menyelesaikan catatan."
Bodoh. Mau bersandiwara, tapi aktingmu payah. Mana buku dan penamu? Sudah kau bereskan. Konyol. Tapi tubuhnya masih ditahan rasa sakit. Bagus, kenapa harus di saat ada Adriano begini?
----
"...menyelesaikan catatan...?"
Pria berambut biru kehitaman itu hanya diam, bibirnya tipis membentuk garis lurus. Dia meletakkan penghapus yang dipegangnya, dan setelah memastikan kalau bocah terakhir selain mereka telah meninggalkan ruangan, dia pun berbalik. Alis matanya naik sebelah, dan dia nampak tidak puas. Matanya seperti elang, tajam dan menoreh. Yeah, tentu saja dia agak kesal. Dia tentunya menyadari ada sesuatu yang aneh, tapi maaf, dia tidak serendah itu sampai harus menggunakan mind-read miliknya. Entahlah. Mungkin dia juga kesal memikirkan kemungkinan bahwa yang membuat mantan tunangannya itu tidak konsentrasi adalah...ehm, seseorang yang tak disukainya?
"Seingatku, kau bahkan tidak memperhatikan pelajaran tadi," kata Adriano malas. "Jawab, kelemahan apa yang paling besar dari ilusionis? Kalau kau memperhatikan, kau pasti tahu."
Berjalan langsung dari depan kelas ke bangku pemuda itu, Adriano menatapnya dengan tajam. Meminta jawaban, meminta fakta dan kepastian.
"Tidak biasanya kau memakai kaus dengan leher tinggi di bawah kemeja," komentarnya pelan. "Dan nada suaramu juga tidak seperti biasa. Kau selalu payah soal akting. Dan karenanya aku yakin, pasti ada masalah."
Kembali berbalik, dia bergumam sedih. Pelan, berharap tak terdengar, tapi seharusnya jelas mengingat ruangan itu telah sunyi karena hanya mereka berdua di sana.
"...apa aku sudah tidak bisa dipercaya lagi...?"
---
Tuh, sudah dibilang juga apa. Kenapa pakai berbohong sedang menyelesaikan catatan? Adriano sendiri sudah tahu kalau selama pelajaran, ia tidak memperhatikan. Mana bisa berkonsentrasi saat lehermu terasa disayat-sayat? Mungkin harusnya ia tidak masuk. Tapi bukankah malah membuat orang curiga? Ditambah di kamarnya, ada beberapa gulung perban dan kemeja yang dikenakannya semalam berlumuran darah (dan sekarang ada di bawah tempat tidurnya). Untung dia sekamar dengan Ann, jadi kalau Sol bertanya soal perban-perban itu, bisa mengatakan kalau itu milik Ann. Luka ini merepotkan. Belum tertutup sepenuhnya. Salah bergerak sedikit, bisa terbuka lagi. Yah, biarpun luka di hatinya jauh lebih sakit. Membuatnya sulit berpikir jernih. Oh God, ini semakin menyiksa saja!
"Kelemahan ilusionis...? Ah--itu..." matanya melirik ke kanan dan kiri, bingung. Dia benar-benar tidak memperhatikan. Aaagh! Tapi kalau tidak dijawab nanti ketahuan?!
Sekarang matanya menatap lurus. Oh, bagus. Tepat ke arah Adriano. Sekarang kau butuh alibi lagi. Tapi ternyata mata yang tajam itu sudah terlebih dahulu menangkap keganjilan darinya. Sial, ternyata apa yang dilakukannya untuk menutupi luka ini malah membuatnya terpojok.
"A--aku...ini--"
Crap.
Rasa sakit itu semakin menyengat. Hyo menggigit bibirnya, menahan erangan yang hampir terdengar dari mulutnya. Memejamkan mata erat-erat, sambil berusaha mengatur napas. Payah, obat apa lagi yang harus diminumnya untuk mengurangi rasa sesakit ini?
Kata-kata Adriano saat bergumam dapat didengarnya. Kenapa sesedih itu? Uh, kenapa dirinya malah membuat orang lain sedih? Apalagi Adriano. Tapi ia tidak bisa berkata jujur. Maaf, itu yang sekarang ia katakan dalam hati.
"Aku tidak apa-apa kok! Tenang saja, hehe..." memaksakan nada ceria dalam suaranya. Mencoba malah terdengar seperti dirinya tiga tahun yang lalu. Polos, periang, selalu tersenyum tanpa pernah memikirkan kalau di masa depan akan seperti ini. Ya, matahari yang sesungguhnya. Jauh berbeda dengan sekarang.
"Kelemahan ilusionis...? Ah--itu..." matanya melirik ke kanan dan kiri, bingung. Dia benar-benar tidak memperhatikan. Aaagh! Tapi kalau tidak dijawab nanti ketahuan?!
Sekarang matanya menatap lurus. Oh, bagus. Tepat ke arah Adriano. Sekarang kau butuh alibi lagi. Tapi ternyata mata yang tajam itu sudah terlebih dahulu menangkap keganjilan darinya. Sial, ternyata apa yang dilakukannya untuk menutupi luka ini malah membuatnya terpojok.
"A--aku...ini--"
Crap.
Rasa sakit itu semakin menyengat. Hyo menggigit bibirnya, menahan erangan yang hampir terdengar dari mulutnya. Memejamkan mata erat-erat, sambil berusaha mengatur napas. Payah, obat apa lagi yang harus diminumnya untuk mengurangi rasa sesakit ini?
Kata-kata Adriano saat bergumam dapat didengarnya. Kenapa sesedih itu? Uh, kenapa dirinya malah membuat orang lain sedih? Apalagi Adriano. Tapi ia tidak bisa berkata jujur. Maaf, itu yang sekarang ia katakan dalam hati.
"Aku tidak apa-apa kok! Tenang saja, hehe..." memaksakan nada ceria dalam suaranya. Mencoba malah terdengar seperti dirinya tiga tahun yang lalu. Polos, periang, selalu tersenyum tanpa pernah memikirkan kalau di masa depan akan seperti ini. Ya, matahari yang sesungguhnya. Jauh berbeda dengan sekarang.
---
Nah kan? Benar-benar tidak bisa menjawab. Well, inilah yang sudah dia duga. Dia boleh jadi baru sembuh dari sakitnya belakangan ini. Tapi itu bukan berarti daya pengamatannya pun ikut menurun. Tidak tahukah Hyo Lee, bahwa yang selama pelajaran ini menjadi pikirannya adalah sang pemuda? Mantan tunangannya, tolong ulang kata-kata itu. Sekalipun mantan, tetap dia pedulikan. Satu-satunya yang berharga baginya. Insan yang paling bermakna.
Dan apa yang dia dapatkan?
"Aku tidak apa-apa kok! Tenang saja, hehe..."
Tidak apa-apa?
Tidak apa-apa?
Lagi, tidak diberikan jawaban yang dia inginkan. Memang rupanya dia tidak bisa dipercaya, ya? Dia yang terlalu bodoh ini. Penipu besar. Jalang. Mana ada yang mau mempercayainya saat ini? Karena semuanya void, hampa dan tidak bermakna. Sebuah ruang kosong yang tidak akan pernah diisi. Karena 'dia' yang mengisi bagian hampa itu tidak ada di sana. Yang dia inginkan untuk kembali...
...bagaimana dia bisa tenang?
"Kau memang--"
Sebuah lengkungan kecut di bibir.
"--sudah tidak percaya padaku lagi, ya?"
Dusta.

sad
anxious